Memberi Dengan Mengharap Balasan Lebih Besar
Pada awalnya saya merasa heran dengan kondisi masyarakat saat ini yang begitu bersemangat untuk bersedekah. Banyak sekali manusia yang mengajak manusia lainnya untuk bersedekah. Akan tetapi, ada kesan yang menempel pada benak saya, kesan bahwa semangat bersedekah dan mengkampanyekan sedekah itu cenderung membuat manusia bersedekah hanya untuk mengharapkan balasan harta berkali lipat dari yang disedekahkan.
Misalnya saja, dikatakan jika ingin mendapatkan target harta sekian, bersedekahlah 10% dari target harta tersebut. Atau, jika terlilit utang, bersedekahlah 10% dari total utang tersebut. Begitulah kesan yang beredar. Diakui atau tidak.
Walhamdulillah, kemarin terdengar suara murottal dengan terjemahannya melewati surat Al Muddatstsir ayat ke 6, begini bunyinya :
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ
dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Dan yang saya dapatkan dari Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini
Ibnu Abbas mengatakan bahwa janganlah kamu memberikan suatu pemberian dengan maksud agar memperoleh balasan yang lebih banyak darinya. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Atha’, Thawus, Abul Ahwash, Ibrahim An Nakha’i, Adh Dhahhak, Qadatah, dan As Saddi serta lainnya. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia membaca firman-Nya dengan bacaan berikut, “Dan janganlah kamu merasa memberi dengan banyak.” Al Hasan Al Bashri mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa janganlah kamu merasa beramal banyak kepada Tuhanmu. Hal yang sama dikatakan oleh Ar Rabi’ ibnu Anas. Pendapat inilah yang dipilih Ibnu Jarir.
Khashif telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman Allah
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ
Yakni janganlah kamu merasa lemah diri untuk berbuat banyak kebaikan. Mujahid mengatakan bahwa orang Arab mengatakan tamannana, artinya merasa lemah diri. Ibnu Zaid mengatakan, janganlah kamu merasa berjasa dengan kenabianmu terhadap manusia dengan maksud ingin memperbanyak dari mereka imbalan jasa beripa dunia. Keempat pendapat ini yang paling kuat diantaranya adalah yang pertama. Wallahu a’lam.
Memang benar Allah menjanjikan balasan berlipat bagi siapa yang berinfaq di jalan Allah. Namun, hendaknya kita tetap menjaga niat sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari pada hadits pertama
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.”
Tulisan ini bukan bermaksud untuk melemahkan semangat masyarakat dalam bersedekah. Bukan. Justru dengan tulisan ini masyarakat diharapkan lebih bersemangat, lebih sering, dan lebih banyak bersedekah dengan mengharapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar balasan dunia yang kecil.
Saya akan sangat senang dan berterima kasih jika ada yang memberi tambahan atau koreksi dengan menyertakan dalilnya. Selamat bersedekah!
7 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]