<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>robee di sini! &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://muhammad.robee.web.id/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhammad.robee.web.id</link>
	<description>Untuk belajar, belajar, dan belajar</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Aug 2010 15:46:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Perokok itu Penjahat!</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/perokok-itu-penjahat/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/perokok-itu-penjahat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 14:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[perokok penjahat]]></category>
		<category><![CDATA[rokok haram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Begitu sesak dada ini. Begitu perih hidungku menghirup. Kenapa mereka terus-menerus menyakiti aku? Apa salahku kepada mereka? Mereka dengan santainya menyulut sebatang rokok pembunuh. Tak sadarkah mereka bahwa itu menyakiti orang lain? Sungguh sangat sakit ketika asap rokok itu menyentuh dinding hidungku. Apa mereka tidak tahu betapa susahnya aku bernafas? Jika saja paru-paruku diperiksa mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu sesak dada ini. Begitu perih hidungku menghirup. Kenapa mereka terus-menerus menyakiti aku? Apa salahku kepada mereka?</p>
<p>Mereka dengan santainya menyulut sebatang rokok pembunuh. Tak sadarkah mereka bahwa itu menyakiti orang lain?</p>
<p>Sungguh sangat sakit ketika asap rokok itu menyentuh dinding hidungku. Apa mereka tidak tahu betapa susahnya aku bernafas?<br />
<span id="more-172"></span><br />
Jika saja paru-paruku diperiksa mungkin sudah lebih rusak dari paru-paru mereka. Karena aku sudah bertahun-tahun menghisap asap yang lebih kotor dari yang mereka hisap. Kotoran dan sisa yang mereka hisap!!</p>
<p>Maaf semua. Ini sekedar teriakan saya saja. Supaya mereka tahu, kenapa <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=427">rokok diHARAMkan</a>.</p>
<p>Dikemanakan hak kami yang sakit ketika menghirup asap rokok?!</p>
<p>Note:<br />
Hidung saya benar-benar sakit dan dada saya benar-benar sesak ketika ada asap rokok yang masuk. Jadi yang saya tulis bukan kiasan! Akan tetapi, saya benar-benar merasakan sakit!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/perokok-itu-penjahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Tegal</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/oleh-oleh-dari-tegal/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/oleh-oleh-dari-tegal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 03:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[taqwa]]></category>
		<category><![CDATA[tegal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah saat ini saya punya kesempatan lagi untuk menulis di blog ini. Ya walaupun tulisan kali ini juga singkat saja. Sejak beberapa hari lalu tugas kuliah terlihat seperti gunung tinggi yang mesti dipahat pelan-pelan. Ok langsung saja. Sesuai judul posting, kali ini saya ingin berbagi oleh-oleh dari Tegal. Akhir tahun lalu saya sempatkan pulang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah saat ini saya punya kesempatan lagi untuk menulis di blog ini. Ya walaupun tulisan kali ini juga singkat saja. Sejak beberapa hari lalu tugas kuliah terlihat seperti gunung tinggi yang mesti dipahat pelan-pelan.</p>
<p>Ok langsung saja. Sesuai judul posting, kali ini saya ingin berbagi oleh-oleh dari Tegal. Akhir tahun lalu saya sempatkan pulang ke Tegal, karena memang sudah jadi jadwal tetap dari kampus. Tiap akhir tahun libur. Akan tetapi, oleh-olehnya bukan berupa barang, atau materi lainnya. Apa oleh-olehnya?<br />
<span id="more-154"></span><br />
Oleh-olehnya yaitu berupa rekaman kajian yang saya ikuti sewaktu di Tegal. Kajian ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2008 di Masjid Ali bin Abi Thalib. Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Luqman Ba&#8217;abduh.</p>
<p>Materi kajian ini yaitu berupa nasehat dari Al Ustadz Luqman Ba&#8217;abduh kepada kita semua untuk senantiasa bertaqwa dan bersemangat dalam menuntut ilmu.</p>
<p>Menurut saya materi ini sangat bagus. Cocok bagi siapa saja yang ingin hatinya disentuh. Sentuhan lembut yang menggetarkan. Jadi langsung di-download saja ya. Dengarkan dengan seksama dan penuh konsentrasi. Kalau kurang konsentrasi mungkin efeknya akan kurang terasa.</p>
<p>Berikut link-nya:<br />
<a href="http://www.salafishare.com/id/24IXSRYDRGIE/daurah-tegal-23122008-1.mp3" target="_blank">http://www.salafishare.com/id/24IXSRYDRGIE/daurah-tegal-23122008-1.mp3</a><br />
<a href="http://www.salafishare.com/id/24MBIJ4W78IO/daurah-tegal-23122008-2.mp3" target="_blank">http://www.salafishare.com/id/24MBIJ4W78IO/daurah-tegal-23122008-2.mp3</a></p>
<p>Oia saya minta maaf jika kualitas rekamannya kurang bagus. Terima kasih, semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/personal-life/oleh-oleh-dari-tegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Kita Pikir Bisa, Maka..</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/jika-kita-pikir-bisa-maka/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/jika-kita-pikir-bisa-maka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 01:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah.. Bagi anda yang suka mengikuti training-training motivasi, pasti sudah sering mendengarkan kalimat seperti ini. &#8220;Jika kita pikir bisa, maka kita pasti bisa!&#8221; Apakah benar seperti itu? Terkadang kita tidak pernah berpikir kembali. Memikirkan kembali perkataan yang kita ucapkan. Sehingga secara sadar atau tidak terkadang apa yang kita ucapkan tersebut sudah menyangkut masalah aqidah. Seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah..</p>
<p>Bagi anda yang suka mengikuti training-training motivasi, pasti sudah sering mendengarkan kalimat seperti ini.</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Jika kita pikir bisa, maka kita pasti bisa!&#8221;</em></p>
<p>Apakah benar seperti itu? Terkadang kita tidak pernah berpikir kembali. Memikirkan kembali perkataan yang kita ucapkan. Sehingga secara sadar atau tidak terkadang apa yang kita ucapkan tersebut sudah menyangkut masalah aqidah. Seperti kalimat di atas, atau kalimat-kalimat sejenisnya.</p>
<p>Seperti yang sudah mafhum di kalangan umat Islam bahwa Allah memiliki <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=965" target="_blank">sifat Iradah dan Masyi&#8217;ah</a>. Yang mana kekuasaan-Nya adalah mutlak. Tidak bisa diganggu gugat. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.<br />
<span id="more-141"></span></p>
<p>Perlu kita ingat, urusan masa depan kita adalah suatu hal yang gaib. Kita tidak tahu apakah di masa yang akan datang nanti kita akan berhasil melakukan apa yang kita inginkan ataukah tidak. Alih-alih mengatakan pasti bisa, lebih baik kita katakan insya Allah. Karena Allah sudah menuntun kita untuk selalu mengatakan <a href="http://quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&amp;nSeg=0&amp;l=ind&amp;nSora=18&amp;nAya=23&amp;t=ind" target="_blank">insya Allah</a> ketika kita berbicara mengenai apa yang akan kita lakukan, atau tentang masa depan kita.</p>
<p>Akan tetapi, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita tidak boleh lemah. Tidak boleh patah semangat. Tidak boleh kita <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=966" target="_blank">berhenti berusaha</a> dengan alasan semua hal sudah ditakdirkan oleh Allah. Ingatlah kita umat Islam memiliki <a href="http://alhujjah.wordpress.com/2008/02/01/senjata-yang-paling-ampuh/" target="_blank">senjata yang paling ampuh</a>, yaitu tawakkal! Ya, Tawakkal lah. Jangan menyerah! <a href="http://almakassari.com/?p=56" target="_blank">Jangan sampai kita menghinakan diri</a> di hadapan manusia.</p>
<p>Yakinlah bahwa setiap orang sudah ditentukan rezekinya. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk menggapainya. Jika kita mengalami seret rezeki, coba introspeksi diri. Apa penyebabnya. Kemudian kita telaah kembali bagaimana <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=242" target="_blank">melancarkan rezeki</a> yang sudah ditetapkan untuk kita. Ingat, semua sudah ditetapkan oleh Allah. Jadi tidak perlu kita pergi ke mbah anu, mbah ini, dan si itu. Bertanya tentang masa depan kita. Meminta simbol-simbol keberuntungan [jimat] untuk kita gantung di tempat-tempat usaha kita. Tidak perlu semua itu, <a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=195" target="_blank">hanya kepada Allah lah kita bergantung</a>.</p>
<p>Demikianlah, untuk memotivasi diri kita, tidak perlu kita menggunakan kalimat-kalimat yang bisa mengikis aqidah kita. Sungguh sangat banyak materi motivasi yang bisa kita dapatkan dari Al Quran dan Al Hadits. Cukuplah dua hal itu menjadi pedoman bagi kita. Insya Allah, kita tidak akan pernah merasa kekurangan, merasa lemah, dan semisalnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/jika-kita-pikir-bisa-maka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peluang itu Datang Lagi !!!</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/peluang-itu-datang-lagi/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/peluang-itu-datang-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 00:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama’ah di masjid. Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur’an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini terlalu banyak yang telah berubah dan menjadi baik. Orang-orang yang semula kukenal tak pernah sholat, kini tak pernah tertinggal berjama’ah di masjid. Temanku yang dulu masih terbata-bata membaca Al Qur’an, sekarang sudah hafal beberapa juz. Juga tidak sedikit aku temui perempuan yang semula berpakaian seronok, kini bahkan nyamukpun tak menemukan sedikit celah untuk bisa mendarat di kulitnya. Subhaanallah, banyak sekali yang telah berubah…, kecuali diriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini tak sedikit orang yang kukenal baik telah pergi, meninggalkan alam dunia, meninggalkan aku… -yang juga belum berubah-. Dan hari ini kembali ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala mempertemukan aku dengan bulan Ramadhan. Artinya, sekali lagi ALLAH, mungkin yang terakhir kali, memberikan aku kesempatan, memberikan aku peluang</p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Betapa tidak? Bukankah artinya ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala telah memanjangkan umurku, yang dengannya peluangku untuk memperbaiki diri serta mengumpulkan bekal masih terbuka. Bukankah Rasulullah SAW pernah berkata:</p>
<p style="text-align: right;">كل إبن أدم خطاء و خيرالخطا ئين التوابون (رواه الترمذي</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Setiap anak Adam pasti punya kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah 	adalah yang bertobat</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, hari ini kembali ALLAH memanggilku dengan panggilan terhormat serta memberikan harapan dan peluang untuk menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.</p>
<p style="text-align: right;">أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون</p>
<p style="text-align: justify;">َ<br />
(Artinya: <em>Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa</em>.) (Al Baqarah:183)
</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, harus kuakui semua ni’mat ini, yakni panggilan dan peluang ini, sebagaimana juga harus kuakui akan dosa-dosaku selama ini. Maka pantaslah jika aku berharap ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan mengampuniku, karena tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali DIA. Ya, aku ingat betul sebuah do’a yang diajarkan Nabi SAW :</p>
<p style="text-align: right;">“من قال حين يصبح أو حين يمسي: اللهمَّ أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك<br />
وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أعوذ بك من شرِّ ما صنعت، أبوء لك بنعمتك علي،<br />
وأبوء بذنبي فاغفر لي، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت،<br />
فمات من يومه أو من ليلته دخل الجنة”(رواه أبو داود)
</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Barang siapa yang pagi atau sorenya berdo’a: “A<strong>llahumma, Engkaulah rabb-ku. Tak ada yang layak diibadahi selain Engkau. Engkaulah yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-MU, dan aku terikat perjanjian dengan MU segenap kemampuanku. Aku berlindung kepada MU dari segala keburukan yang aku perbuat. Aku akui akan ni’mat-MU atas diriku, begitu pula aku akui akan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tak ada yang dapat memberi ampunan kecuali Engkau.</strong>” kemudian ia mati di 	pagi atau malamnya, niscaya ia masuk surga</em>.)</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sangat yakin ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan mengampuni dosa-dosaku, selain dosa besar,..oh semoga aku selamat darinya, sebagaimana yang kuketahui dari lisan Nabi-NYA SAW :</p>
<p style="text-align: right;">ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر (مسلم</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Antara Ramadhan ke bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa, selain 	dosa besar</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana seandainya aku melakukan satu kebaikan ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan membalasnya berpuluh bahkan beratus kali lipat. Jika aku menolong seseorang itu seakan aku menolong berpuluh bahkan beratus orang. Jika aku bersedekah sekali itu seakan aku bersedekah puluhan bahkan ratusan kali. Sanggupkah aku lakukan yang demikian itu di waktu selain Ramadhan ? Mungkinkah yang demikian itu terjadi di waktu selain Ramadhan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Aku berada di tengah-tengah waktu di mana tak ada satu kebaikan yang aku lakukan lebih dihargai di hadapan ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala selain di waktu ini, tentunya selain amalan khusus di waktu ini, yakni shaum. Melalui Hadits Qudsyi, ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala telah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">كل عمل ابن آدم له إلا الصيام، فإنه لي وأنا أجزي به …(رواه ألبخاري</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Setiap amalan anak Adam kembali bagi nya, kecuali Shaum. Karena shaum itu 	untuk Aku. Aku sendiri    yang akan mengganjarnya</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Paling tidak, seandainya aku berpuasa dan menegakkan malam-malamnya dengan sholat taraweh, ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan mengampuni dosa-dosaku yang telah lampau. Ya, itu aku yakini, karena Nabi Yang Mulia SAW pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">من صام رمضان إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Barang siapa yang menegakkan ramadhan didasari keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni bagi nya dari dosa-dosanya yang lampau</em>.)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, tentu saja jika aku percaya dan yakin akan wajibnya puasa ini. Jika aku tidak mengatakan bahwa puasa ini sekedar adat kebiasaan. Jika aku tidak menyambutnya sebagai semata ritual budaya tahunan. Tetapi aku menerimanya sebagai sebuah kewajiban yang ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala bebankan kepada setiap muslim. kemudian aku mengharapkan ganjaran dari ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala -tidak dari selain DIA- atas puasaku ini, dan atas amalan-amalan ramadhanku ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, aku harus mengharapkan ganjaran-NYA, dan ini bukan berarti aku tidak ikhlas dalam beribadah, seperti kata sebagian orang yang aku tahu itu keliru. Justru dengan mengharapkan ganjaran-NYA lah tanda keikhlasan itu. Bukankah Nabi SAW sendiri berdo’a dan meminta kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala :</p>
<p style="text-align: right;">اللهم إني أسألك الجنة وأعوذ بك من النار</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Ya ALLAH. Sesungguhnya aku mengharapkan dari MU surga dan berlindung 	kepada MU dari api neraka</em>.)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Rasulullah SAW juga bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">إذا جاء رمضان فتحت ابواب الجنة وغلقت ابواب الناروصفدت الشياطين (رواه مسلم</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Apabila datang bulan Ramadhan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka 	ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Peluang di mana pintu-pintu rahmat-ALLAH terbuka lebar, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Bahkan syaithan pun dibelenggu sehingga tidak leluasa mengganggu manusia, termasuk mengganggu diriku. Tinggallah aku sendiri. Apa yang akan aku lakukan di saat pahala dan ampunan ALLAH begitu mudah untuk diraih?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Peluang untuk mendapatkan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar !!! Malam di saat segala kebaikan dilipatgandakan lebih dari malam-malam yang lain. Malam yang seharusnya kupersiapkan diriku, manakala mendapatinya, berdo’a dengan do’a yang Rasulullah SAW ajarkan kepada Aisyah ra</p>
<p style="text-align: right;">:<br />
اللهم إنك عفو تحب العفوفاف عني
</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>Ya ALLAH. Sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, maka ma’afkanlah aku</em>.)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi. Dan aku tahu, setiap manusia senantiasa butuh momentum. “Inilah saatnya ! Mumpung ! Kapan lagi ?” Semua itu merupakan ungkapan yang menunjukkan betapa sebuah momentum dapat menjadi motivator yang mampu melipatgandakan kemauan dan semangat.<br />
Karenanya, ini pulalah saatnya untuk mulai menghentikan kebiasaan-kebiasaan burukku, dan mulai membiasakan berbagai kebaikan. Inilah saatnya meninggalkan berbagai kemaksiatan yang telah menjadi kebiasaanku, kemudian menjadikan berbagai amalan sholih dan ketaatan sebagai kebiasaanku yang baru.
</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, peluang itu datang lagi dan sungguh tak boleh aku lupakan satu peristiwa penting di saat seorang manusia termulia di muka bumi ini meng-amin-kan ucapan dari seorang malaikat terkemuka di langit. Yakni, ketika Rasulullah SAW meng-amin-kan ucapan Jibril as:</p>
<p style="text-align: right;">عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ارتقى المنبر فقال آمين آمين آمين<br />
فقيل له يا رسول الله ما كنت تصنع هذا<br />
فقال قال لي جبرائيل عليه السلام رغم أنف عبد دخل عليه رمضان فلم يغفر له فقلت آمين
</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Abu Hurairah ra: Bahwasanya Rasulullah SAW ketika di atas mimbar pernah 	mengucapkan, ” <em>Amin!, Amin!, Amin!</em>”  Maka beliaupun ditanya,” <em>Apa yang 	menyebabkan engkau mengatakan itu, wahai Rasulullah?</em>” Maka beliaupun 	menjawab, “<em>Jibril berkata kepadaku</em> :<strong><em>Merugilah orang yang mendapati bulan 	Ramadhan tetapi tidak memperoleh ampunan</em></strong>. <em>Maka aku katakan</em>: <strong><em>Amin..</em></strong>.”</p>
<p>Ya, inilah saatnya meraih berjuta pahala, inilah saatnya meraih berjuta ampunan. Boleh jadi ini peluang terakhir bagiku. Dan alangkah merugi serta tak bersyukurnya aku seandainya bulan Ramadhan telah berlalu, sementara tak kuraih peluang ini.</p>
<p>Diambil dari blog <a href="http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/2008/08/26/peluang-itu-datang-lagi/" target="_blank">Rumah Belajar Ibnu Abbas</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/peluang-itu-datang-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersabarlah terhadap Taqdir Allah, Wahai Saudaraku</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-terhadap-taqdir-allah-wahai-saudaraku/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-terhadap-taqdir-allah-wahai-saudaraku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 12:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta&#8217;ala. Perbedaan antara Al-Qadar &#38; Al-Maqduur Qadar atau taqdiir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqduur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi&#8217;lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diantara jenis sabar adalah sabar terhadap taqdir Allah. Hal ini berkaitan dengan tauhid Rububiyyah, karena sesungguhnya pengaturan makhluk dan menentukan taqdir atas mereka adalah termasuk dari tuntutan Rububiyyah Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p><strong> Perbedaan antara Al-Qadar &amp; Al-Maqduur </strong></p>
<p>Qadar atau taqdiir mempunyai dua makna. Yang pertama: al-maqduur yaitu sesuatu yang ditaqdirkan. Yang kedua: fi&#8217;lu Al-Muqaddir yaitu perbuatannya Al-Muqaddir (Allah Ta&#8217;ala). Adapun jika dinisbahkan/dikaitkan kepada perbuatannya Allah maka wajib atas manusia untuk ridha dengannya dan bersabar. Dan jika dinisbahkan kepada al-maqduur maka wajib atasnya untuk bersabar dan disunnahkan ridha.<br />
<span id="more-11"></span>Contohnya adalah: Allah telah menaqdirkan mobilnya seseorang terbakar, hal ini berarti Allah telah menaqdirkan mobil tersebut terbakar. Maka ini adalah qadar yang wajib atas manusia agar ridha dengannya, karena hal ini merupakan diantara kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Adapun jika dinisbahkan kepada al-maqduur yaitu terbakarnya mobil maka wajib atasnya untuk bersabar dan ridha dengannya adalah sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih (kuat).</p>
<p>Sedangkan al-maqduur itu sendiri bisa berupa ketaatan-ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan dan kadang-kadang merupakan dari perbuatannya Allah semata. Adapun yang berupa ketaatan maka wajib ridha dengannya, sedangkan bila berupa kemaksiatan maka tidak boleh ridha dengannya dari sisi bahwasanya hal itu adalah al-maqduur, adapun dari sisi bahwasanya itu adalah taqdir Allah maka wajib ridha dengan taqdir Allah pada setiap keadaan, dan karena inilah Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Maka karena itulah kita ridha dengan qadha` (ketentuan Allah) dan kita marah terhadap sesuatu yang ditentukan apabila berupa kemaksiatan.&#8221;</p>
<p>Maka barangsiapa yang melihat dengan kacamata Al-Qadha` wal Qadar kepada seseorang yang berbuat maksiat maka wajib atasnya ridha karena sesungguhnya Allahlah yang telah menaqdirkan hal itu dan padanya ada hikmah dalam taqdir-Nya. Dan sebaliknya apabila dia melihat kepada perbuatan orang tersebut maka tidak boleh ridha dengannya karena perbuatannya tadi adalah maksiat. Inilah perbedaan antara al-qadar dan al-maqduur.</p>
<p><strong> Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah? </strong></p>
<p>Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:<br />
Pertama: marah, yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran, Allah berfirman:<br />
?????? ???????? ???? ???????? ??????? ????? ?????? ?????? ????????? ?????? ?????????? ???? ?????? ??????????? ???????? ????????? ????? ???????? ?????? ?????????? ??????????? ?????? ???? ???????????? ??????????<br />
&#8220;Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.&#8221; (Al-Hajj:11)</p>
<p>Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.</p>
<p>Kedua: sabar, yaitu sebagaimana ucapan penyair:<br />
????????? ?????? ??????? ????? ??????????? ?????? ??????????? ??????? ???? ?????????<br />
&#8220;Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu.&#8221;<br />
Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.</p>
<p>Ketiga: ridha, dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.</p>
<p>Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.</p>
<p>Keempat: bersyukur, dan ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya &#8216;adzab dunia lebih ringan daripada &#8216;adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
??? ???? ?????????? ???????? ??????????? ??????? ??????? ????? ????? ?????? ?????? ??????????? ??????????<br />
&#8220;Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari &#8216;A`isyah)</p>
<p>??? ???????? ??????????? ???? ?????? ????? ?????? ????? ????? ????? ?????? ????? ????? ????? ????? ?????? ??????????? ?????????? ????? ??????? ????? ????? ???? ??????????<br />
&#8220;Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)<br />
Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.</p>
<p><strong> Bagaimana Mendapatkan Ketenangan? </strong></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:<br />
?????? ???????? ????????? ?????? ????????<br />
&#8220;Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.&#8221; (At-Taghaabun:11)<br />
Yang dimaksud dengan &#8220;beriman kepada Allah&#8221; dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.</p>
<p>Firman-Nya: &#8220;niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya&#8221; yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:<br />
????? ??? ????????? ???????? ????? ???????? ?????? ????????? ??????? ??????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????? ?????? ?????????<br />
&#8220;Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu&#8217;man bin Basyir)</p>
<p>Berkata &#8216;Alqamah (menafsirkan ayat di atas): &#8220;Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya).&#8221;</p>
<p>Tafsiran &#8216;Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan konsekuensinya iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.</p>
<p><strong> Tanda Kebaikan &amp; Kejelekan Seorang Hamba </strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
????? ??????? ????? ?????????? ????????? ??????? ???? ????????????? ??? ?????????? ??????? ??????? ????? ?????????? ???????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ????????? ???? ?????? ????????????<br />
&#8220;Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat.&#8221; (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)</p>
<p>Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:<br />
?????????? ?????? ????????<br />
&#8220;Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu.&#8221; (HR. Muslim no.771 dari &#8216;Ali bin Abi Thalib)<br />
Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.</p>
<p>Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah &#8216;Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:<br />
????? ??????? ???????? ????? ???????<br />
&#8220;Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.&#8221; (Huud:107)</p>
<p>Dan juga Dia berfirman:<br />
????? ??????? ???????? ??? ???????<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.&#8221; (Al-Hajj:18)</p>
<p>Maka semua perkara itu di tangan Allah.<br />
Dan seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.</p>
<p>Yang jelas, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.</p>
<p>Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya &#8216;adzab dunia itu lebih ringan daripada &#8216;adzab akhirat.</p>
<p>Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya.<br />
Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.</p>
<p>Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.</p>
<p><strong> Apabila Allah Mencintai Suatu Kaum </strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga bersabda:<br />
????? ?????? ?????????? ???? ?????? ?????????? ??????? ????? ????? ??????? ??????? ???????????? ?????? ?????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ?????????<br />
&#8220;Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).&#8221; (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian&#8221; yakni semakin besar ujian, semakin besar pula balasannya. Maka cobaan yang ringan balasannya pun ringan sedangkan cobaan yang besar/berat maka pahalanya pun besar karena sesungguhnya Allah &#8216;Azza wa Jalla mempunyai keutamaan terhadap manusia. Apabila mereka ditimpa musibah yang berat maka pahalanya pun besar dan apabila musibahnya ringan maka pahalanya pun ringan.<br />
&#8220;Dan sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka&#8221; ini merupakan kabar gembira bagi orang beriman, apabila ditimpa suatu musibah maka janganlah dia menyangka bahwa Allah membencinya bahkan bisa jadi musibah ini sebagai tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba. Allah uji hamba tersebut dengan musibah-musibah, apabila dia ridha, bersabar dan mengharap pahala kepada Allah atas musibah tersebut maka baginya keridhaan (dari Allah), dan sebaliknya apabila dia marah maka baginya kemarahan (Allah).</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat anjuran, pemberian semangat sekaligus perintah agar manusia bersabar terhadap musibah-musibah yang menimpanya sehingga ditulis/ditetapkan untuknya keridhaan dari Allah &#8216;Azza wa Jalla. Wallaahul Muwaffiq.</p>
<p>Diringkas dari kitab Al-Qaulul Mufiid 2/41-44 dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/125-126 dengan beberapa perubahan.</p>
<p>(Dikutip dari Bulletin Al Wala&#8217; wa Bara&#8217;, Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo&#8217;dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&amp;th=3)</p>
<p>Diambil dari <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=908" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=908</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-terhadap-taqdir-allah-wahai-saudaraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersabarlah, Jangan Sedih Wahai Saudaraku</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-jangan-sedih-wahai-saudaraku/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-jangan-sedih-wahai-saudaraku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 10:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka cita adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa. Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka cita adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangan-kesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadang-kadang sampai putus asa.</p>
<p>Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:<br />
??????? ???????? ??????????? ????? ???????? ??????? ?????? ???????? ????? ???????? ?????? ???????????? ???? ??????????? ???????? ?????? ??????? ??????? ???? ?????? ??????????? ???????? ?????? ??????? ??????? ????<br />
&#8220;Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya.&#8221; (HR. Muslim no.2999 dari Shuhaib radhiyallahu &#8216;anhu)<br />
<span id="more-10"></span><strong>Kriteria Orang yang Paling Mulia </strong></p>
<p>Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta&#8217;ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.</p>
<p>Allah berfirman:<br />
??????????? ???????? ?????? ????????????? ???? ?????? ????????? ??????????????? ???????? ??????????? ????????????? ????? ???????????? ?????? ??????? ??????????? ????? ??????? ??????? ???????<br />
&#8220;Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&#8221; (Al-Hujuraat:13)</p>
<p><strong> Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia </strong></p>
<p>Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya -termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>????? ?????????? ???????? ???????? ???? ?????? ??????? ???????????? ??????? ???????? ????? ???????? ???? ?????? ???????? ?????? ?????? ????? ???????? ???? ?????? ???????? ?????? ?????? ????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ????????? ?????????? ?????????? ????????? ???????? ???????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ????????<br />
&#8220;Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya.&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.3208 dan Muslim no.2643 dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan. Allah Ta&#8217;ala berfirman:<br />
??? ??????? ???? ????????? ??? ???????? ????? ??? ???????????? ?????? ??? ??????? ???? ?????? ???? ??????????? ????? ?????? ????? ??????? ???????(22) ?????? ??? ????????? ????? ??? ????????? ????? ?????????? ????? ?????????? ????????? ??? ??????? ????? ????????? ???????(23) ????????? ??????????? ????????????? ???????? ??????????? ?????? ????????? ??????? ??????? ???? ?????????? ??????????(24)<br />
&#8220;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.&#8221; (Al-Hadiid:22-24)</p>
<p>Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:<br />
?????? ???? ?????? ????????? ????? ?????????? ?????? ???? ???????????? ???? ????? ?????? ????????? ????? ???????? ?????? ???? ???????????? ?????? ??? ??????????????? ?????? ???????? ???????? ????? ?????????? ???????? ?????????? ??????? ???? ???????? ????? ??????? ???????? ???? ???????? ???? ?????????? ?????? ???????????? ???????? ?????????? ????? ???????? ???????? ????????????? ??? ????????? ?????? ??????????? ?????? ???????? ???????? ????? ?????????? ???????????? ????? ??????? ????? ??? ??????? ???????? ????????????<br />
&#8220;Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya. Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat.&#8221; (Shahih, HR. Al-Hakim no.2136 dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid&#8217;ah).</p>
<p>Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya hal-hal yang diharamkan.<br />
<strong><br />
Hendaklah Orang yang Mampu Membantu </strong></p>
<p>Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman:<br />
????????????? ????? ???????? ???????????? ????? ??????????? ????? ???????? ?????????????? ?????????? ??????? ????? ??????? ??????? ??????????<br />
&#8220;Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.&#8221; (Al-Maa`idah:2)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
???? ??????? ???? ???????? ???????? ???? ?????? ??????????? ??????? ????? ?????? ???????? ???? ?????? ?????? ????????????? ?????? ??????? ????? ????????? ??????? ????? ???????? ??? ?????????? ???????????? ?????? ?????? ????????? ???????? ????? ???? ?????????? ???????????? ??????? ???? ?????? ????????? ??? ????? ????????? ???? ?????? ????????<br />
&#8220;Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.&#8221; (HR. Muslim no.2699 dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p><strong> Berdo&#8217;a ketika Sedih </strong></p>
<p>Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do&#8217;a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:<br />
??? ??????? ??????? ??? ????? ????? ?????? ???????: (?????????? ??????? ???????? ????? ???????? ????? ???????? ??????????? ???????? ????? ????? ???????? ?????? ????? ????????? ?????????? ??????? ????? ???? ???? ????????? ???? ???????? ???? ??????????? ??????? ???? ???????? ???? ???????????? ???? ????????? ???? ????????????? ???? ???? ?????? ????????? ???????? ???? ???????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ???????? ????????? ???????? ????????? ???????) ??? ???? ???? ??? ????? ?????? ????? ???? ??? ???? ?? ???? ???? ??? ??????? ???? ??? ????? ??? ????? ?? ???????<br />
&#8220;Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.&#8221; kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.&#8221; Tiba-tiba ada yang bertanya: &#8220;Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do&#8217;a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: &#8220;Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).&#8221; (HR. Ahmad no.3712 dari &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy)</p>
<p>Juga do&#8217;a berikut ini:<br />
?????????? ??????? ???????? ???? ???? ???????? ??????????? ??????????? ??????????? ??????????? ??????????? ???????? ????????? ?????????? ??????????<br />
&#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain.&#8221; (HR. Al-Bukhariy 7/158 dari Anas radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p><strong> Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan </strong></p>
<p>Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu.<br />
Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: &#8220;Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat al-hilm (sabar dan tidak terburu-buru).&#8221; (Adabud Dunya wad Diin hal.92, dari Aadaabu Thaalibil &#8216;Ilmi hal.71)</p>
<p>Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.</p>
<p><strong> Contoh Orang-orang yang Sabar </strong></p>
<p>Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.</p>
<p>Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya&#8217;qub:<br />
?????????? ???????? ??????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ????????? ???? ????????? ?????? ???????(84) ??????? ????????? ???????? ???????? ??????? ?????? ??????? ??????? ???? ??????? ???? ?????????????(85) ????? ???????? ??????? ?????? ????????? ????? ??????? ?????????? ???? ??????? ??? ??? ???????????(86)<br />
&#8220;Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: &#8220;Aduhai duka citaku terhadap Yusuf&#8221;, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: &#8220;Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.&#8221; Ya`qub menjawab: &#8220;Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya.&#8221; (Yuusuf:84-86)</p>
<p>Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam:<br />
???????????? ????????????? ???? ???????? ????????(22) ???????????? ?????????? ????? ?????? ??????????? ??????? ???????????? ????? ?????? ????? ???????? ??????? ??????????(23) ??????????? ???? ????????? ?????? ????????? ???? ?????? ??????? ???????? ????????(24) ???????? ???????? ???????? ??????????? ????????? ???????? ??????? ????????(25)<br />
&#8220;Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: &#8220;Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.&#8221; Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: &#8220;Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.&#8221; (Maryam:22-25)</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari&#8217;at-Nya, amin. Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>(Dikutip dari Bulletin Al Wala&#8217; wa Bara&#8217;, Edisi ke-4 Tahun ke-3 / 17 Desember 2004 M / 05 Dzul Qo&#8217;dah 1425 H . Judul asli Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung.)</p>
<p>Diambil dari <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=909" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=909</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/bersabarlah-jangan-sedih-wahai-saudaraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beriman pada Taqdir Allah, Tidak Meniadakan Usaha</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/beriman-pada-taqdir-allah-tidak-meniadakan-usaha/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/beriman-pada-taqdir-allah-tidak-meniadakan-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 10:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Dalil-dalil tentang Takdir Berkaitan dengan sifat Iradah dan Masyi’ah bagi Allah dalam pembahasan edisi sebelumnya, kita memahami adanya kehendak Allah dalam masalah qadla dan qadar (takdir). Allah ?????? ?????? menghendaki segala sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi dan telah terjadi di alam ini. Dan Ia juga telah mencatatnya di lauhul mahfudh jauh sebelum diciptakannya langit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Dalil-dalil tentang Takdir</strong><br />
Berkaitan dengan sifat Iradah dan Masyi’ah bagi Allah dalam pembahasan edisi sebelumnya, kita memahami adanya kehendak Allah dalam masalah qadla dan qadar (takdir). Allah ?????? ?????? menghendaki segala sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi dan telah terjadi di alam ini. Dan Ia juga telah mencatatnya di lauhul mahfudh jauh sebelum diciptakannya langit dan bumi.</p>
<p>Rasulullah ??? ???? ???? ???? bersabda:<br />
?????? ????? ??????????? ???????????? ?????? ???? ???????? ????????????? ??????????? ???????????? ?????? ??????. ???? ????<br />
Allah telah mencatat takdir para mahluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. (HR. Muslim)</p>
<p><span id="more-9"></span>Takdir juga merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim. Maka seluruh kaum muslimin harus beriman bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah ?????? ??????, yang baik ataupun yang buruknya; yang manis maupun yang pahitnya; sengsara atau bahagia.</p>
<p>Rasulullah ??? ???? ???? ???? ketika menjawab pertanyaan dari Jibril tentang iman bersabda:<br />
???? ???????? ??????? ??????????????? ?????????? ?????????? ??????????? ???????? ?????????? ??????????? ???????? ?????????. ???? ????<br />
Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan beriman kepada takdir baik dan buruknya. (HR. Muslim)</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
?????? ????? ?????? ??????????? ????????. ?????: 49<br />
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran yang sudah ditentukan.” (al-Qamar: 49)</p>
<p>??????? ?????????? ???? ??????? ????? ???? ???????? ????? ?????????? ?????????? ????? ???????? ???? ??????? ????? ?????? ?????? ?????????? ????? ????????? ???? ????????? ????? ???????? ???? ?????????? ?????? ??? ??????? ????? ?????? ????? ????? ????????. ????: 11<br />
“Dan Allah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kalian berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. “(Fathir: 11)</p>
<p>Jika kaum muslimin memahami dengan benar masalah takdir ini, niscaya mereka akan mengetahui kekuasaan Allah yang Maha Besar dan Mutlak. Dan bahwasanya segala daya upaya dan kekuatan kita ada di bawah kekuasaan Allah. Maka ucapan yang tepat adalah ucapan kaum muslimin:<br />
??? ?????? ????? ??????? ?????? ???????<br />
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.</p>
<p>Tidak ada yang mengingkari takdir Allah baik dan buruknya ini kecuali kalangan ahlul bid’ah seperti qadariyah, mu’tazilah dan sejenisnya dari kalangan rasionalis.</p>
<p><strong> Takdir tidak menafikan adanya usaha</strong><br />
Hanya saja, ketika sebagian kaum muslimin salah memahaminya, maka akhirnya sebagian di antara mereka justru hanya pasrah terhadap takdir yang telah ditentukan Allah hingga akhirnya malas untuk berusaha. Bahkan mereka menggugurkan serta tidak menganggap sama sekali adanya ketentuan hukum-hukum syari’at, karena mereka menganggap percuma karena seluruhnya sudah ditakdirkan (aliran Jabriyah).</p>
<p>Pada sisi lain yang berlawanan, sebagian kaum muslimin justru menolak adanya takdir yang telah ditulis Allah dalam lauhul mahfudh. Mereka menolak menetapkan adanya takdir sebagai salah satu dari rukun-rukun iman dengan alasan: hal ini akan dapat membuat umat Islam terbelakang, jumud dan beku (aliran Qadariyah). Sebagaimana dikatakan oleh tokoh STAIN di Indonesia, Prof. Dr. Harun Nasution.</p>
<p>Semua itu adalah penyimpangan dan kesesatan. Adapun Ahlus Sunnah wal jama’ah, mereka memahami bahwa qadla dan qadar adalah kekuasaan Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad:<br />
???????? ???????? ?????.</p>
<p>Masalah takdir adalah kekuasaan Allah.<br />
Yang dimaksud adalah bahwa Allah Maha Berkuasa untuk menakdirkan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya dalam keadaan manusia tetap memiliki ikhtiar, usaha dan kehendak. Namun semua kehendak, ikhtiar dan usaha manusia tidak akan lepas dari apa yang telah Allah tentukan.<br />
????? ?????????? ?????? ???? ??????? ??????? ????? ??????? ????? ???????? ????????. ???????: 30<br />
“Dan tidaklah kalian berkehendak, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Insaan: 30)</p>
<p>Maka semua yang diamalkan oleh manusia adalah apa yang telah ditakdirkan oleh Allah ?????? ??????.<br />
????????? ?????????? ????? ???????????. ???????: 96<br />
“Dan Allah menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan. “(ash-Shaafaat: 96)<br />
Sehingga dengan keyakinan mereka terhadap takdir ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak pernah putus asa dalam berusaha. Hanya saja mereka mengiringi usahanya dengan do’a dan berharap kepada Allah ?????? ?????? agar mendapatkan taufik dan keberhasilan, karena mereka mengetahui dan meyakini bahwa Allahlah yang menentukan dan menakdirkan. Tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dengan bantuan Allah.</p>
<p>Dengan demikian, kaum muslimin yang beriman kepada takdir akan menjadi manusia yang besar hati, kuat, semangat dan tabah dalam menghadapi ujian-ujian dan musibah. Karena mereka tahu apa yang terjadi dari keberhasilan, kegembiraan, dan kesuksesan adalah dari Allah, sehingga mereka bersyukur kepada Allah. Demikian pula sebaliknya ketika mereka ditimpa kegagalan, kesedihan, dan musibah-musibah, maka mereka tahu bahwa itu adalah dengan takdir dari Allah, hingga mereka pun bersabar atas apa yang menimpanya dan mengucapkan: “Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:<br />
????????? ????? ????????????? ????????? ??????? ?????? ??????? ???????? ???????? ??????????. ??????: 156<br />
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;. (al-Baqarah: 156)</p>
<p>???? ???? ?????????? ?????? ??? ?????? ??????? ????? ???? ?????????? ??????? ??????? ??????????????? ??????????????. ??????: 51<br />
Katakanlah: &#8220;Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.&#8221; (at-Taubah: 51)</p>
<p><strong> Inilah hikmah dari beriman kepada takdir.</strong><br />
Allah ?????? ?????? berfirman  tentang hikmah diberitakannya masalah takdir kepada manusia:<br />
??? ??????? ???? ????????? ??? ????????? ????? ??? ???????????? ?????? ??? ??????? ???? ?????? ???? ??????????? ????? ?????? ????? ??????? ???????. ?????? ??? ????????? ????? ??? ????????? ????? ?????????? ????? ?????????? ????????? ??? ??????? ????? ????????? ??????.???????: 22-23<br />
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan putus asa terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. “(al-Hadiid: 22-23)</p>
<p>Rasulullah ??? ???? ???? ???? bersabda:<br />
??????? ???????? ??????????? ????? ???????? ??????? ?????? ???????? ????? ???????? ?????? ???????????? ???? ??????????? ???????? ?????? ??????? ??????? ???? ?????? ??????????? ???????? ?????? ??????? ??????? ????. ???? ????<br />
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, seluruh perkaranya adalah baik; dan tidaklah demikian bagi seseorang pun kecuali mukmin. Jika ia diberikan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik bagi-nya; dan jika ia ditimpa kesusahan ia sabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong> Adab kepada Allah</strong><br />
Dengan keimanan kita kepada takdir Allah ?????? ??????, kita menyatakan ketika kita mendapati kebaikan, keberhasilan, kegembiraan dan kesuksesan: “Ini dari Allah”. Kemudian mensyukurinya dengan ucapan alhamdulillah dan menggunakan kenikmatan dan kebaikan tersebut untuk apa yang diridlai oleh Allah ?????? ??????.</p>
<p>Namun ketika kita mendapatkan musibah, kejelekan, kesedihan, dan kegagalan, maka yang kita nyatakan adalah sebab terjadinya musibah tersebut, walaupun kita mengetahui semuanya adalah takdir dari Allah ?????? ??????. Namun Allah menciptakan segala sesuatu dengan sebab-sebabnya. Maka kita ucapkan: “Ini akibat kelalaian kita”, “Ini karena disebabkan dosa-dosa kita”, “Ini akibat kecerobohan dan kelemahan kita” dan seterusnya.</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
??? ????????? ???? ???????? ?????? ??????? ????? ????????? ???? ????????? ?????? ????????&#8230; ??????: 79<br />
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri… “(an-Nisaa’: 79)</p>
<p>Yakni kita menyatakan bahwa Allah menakdirkan kejelekan-kejelekan tersebut adalah karena dosa-dosa kita. Sehingga pernyataan ini tidak bertentangan dengan ayat lain yang menyatakan semua adalah dari Allah.</p>
<p>?????? ?????????? ???????? ????????? ?????? ???? ?????? ??????? ?????? ?????????? ????????? ????????? ?????? ???? ???????? ???? ????? ???? ?????? ???????. ??????:78<br />
“…dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: &#8220;Ini adalah dari sisi Allah&#8221;. Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)’. Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah’… “(an-Nisaa’: 78)</p>
<p>Hal ini sama seperti ketika kita memanggil Allah ?????? ?????? dengan nama-nama-Nya yang baik. Kita tidak boleh memanggil Allah dengan kalimat: “Wahai pencipta setan”, “Wahai pencipta kejelekan”, karena hal ini mengandung celaan, walaupun kita meyakini bahwa setan dan seluruh kejelekan adalah ciptaan Allah. Berbeda halnya ketika kita mengatakan: “Wahai pencipta segala mahluk” atau “Wahai pencipta segala kebaikan dan kejelekan”.</p>
<p>Berkata Imam ash-Shabuni: “Termasuk madzhab ahlus sunnah adalah ucapan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan adalah dengan takdir dari Allah. Namun mereka tidak menyandarkan kepada Allah apa-apa yang akan memberikan kesan kekurangan ketika disendirikan. Seperti ucapan “Wahai pencipta kera dan babi-babi”. (Aqidatus Salaf ash-habul Hadits, Imam Ash-Shabuni, Tahqiq Nashir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Juda’. hal. 284)</p>
<p>Walaupun sesungguhnya setan, monyet, babi dan seluruh makhluk-makhluk lain adalah ciptaan Allah. Inilah adab kita ketika berbicara tentang Allah.</p>
<p>Hal ini seperti ucapan Allah ?????? ?????? yang mengkisahkan ucapan Ibrahim ???? ??????:<br />
??????? ???????? ?????? ?????????. ???????: 80<br />
“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’araa: 80)</p>
<p>Dalam ayat ini, Ibrahim ???? ?????? menisbatkan sakitnya kepada dirinya “aku sakit”, tetapi menisbahkan kesembuhannya kepada Allah “Dialah yang menyembuhkanku”. Walaupun Ibrahim tentu meyakini bahwa penyakit dan kesembuhan seluruhnya dari Allah ?????? ??????.</p>
<p>Atau seperti ayat Allah yang mengkisahkan ucapan jin:<br />
???????? ??? ??????? ??????? ??????? ?????? ??? ????????? ???? ??????? ?????? ????????? ???????. ????: 10<br />
“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. “(al-Jin: 10)<br />
Dalam ayat ini, ketika membicarakan tentang kejelekan disebut dengan kata “dikehendaki” tanpa disebutkan siapa yang menghendakinya “apakah kejelekan yang dikehendaki?” Namun ketika berbicara tentang kebaikan disebutkan dengan jelas pelakunya: “Atau Rabb-mu menghendaki kebaikan”.</p>
<p>(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 54/Th. II , 14 Shafar 1426 H/25 Maret 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli &#8220;Beriman kepada Taqdir, tidak menafikan adanya usaha&#8221;. Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)</p>
<p>Diambil dari <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#038;id_artikel=966" target="_blank">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&#038;id_artikel=966</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/beriman-pada-taqdir-allah-tidak-meniadakan-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahlussunnah mengimani sifat Iradah dan Masyi&#8217;ah Allah</title>
		<link>http://muhammad.robee.web.id/islam/ahlussunnah-mengimani-sifat-iradah-dan-masyiah-allah/</link>
		<comments>http://muhammad.robee.web.id/islam/ahlussunnah-mengimani-sifat-iradah-dan-masyiah-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 10:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>robee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.robee.web.id/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Sifat Iradah dan Masyi’ah yaitu Allah Maha Berkehendak dan Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya telah ditegaskan dalam al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah. Allah ?????? ?????? berfirman: ???????? ????? ???????. (??????: 16) Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (al-Buruuj: 16) Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani dan menetapkan bahwa Allah ?????? ?????? memiliki sifat Iradah dan Masyi’ah sesuai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sifat Iradah dan Masyi’ah yaitu Allah Maha Berkehendak dan Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya telah ditegaskan dalam al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah.</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
???????? ????? ???????. (??????: 16)<br />
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.  (al-Buruuj: 16)</p>
<p>Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani dan menetapkan bahwa Allah ?????? ?????? memiliki sifat Iradah dan Masyi’ah sesuai dengan ketinggian dan kemuliaan-Nya.<br />
Sifat Iradah dan Masyi’ah yang disebutkan dalam al-Qur&#8217;an dan aS-sunnah ada dua macam:<br />
1. Iradah Qadariyah (kauniyah)<br />
2. Iradah Syar’iyyah.<span id="more-8"></span></p>
<p><strong>Iradah Qadariyah</strong><br />
Iradah Qadariyah adalah kehendak Allah ?????? ?????? dalam masalah taqdir. Dalam Iradah qadariyah ini, apa yang Allah ?????? ?????? kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
&#8230;?????? ????? ??????? ??? ??????????? ????????? ??????? ???????? ??? ???????. (??????: 253)<br />
“…seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berperang. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 253)</p>
<p>Juga firman-Nya:<br />
?????? ?????? ??????? ???? ????????? ???????? ???????? ????????????? ?????? ?????? ???? ????????? ???????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ?????????? ??? ?????????? ???????? ???????? ??????? ????????? ????? ????????? ??? ???????????. (???????: 125)<br />
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’aam: 125)</p>
<p>Yang demikian karena kekuasaan Allah yang mutlak.<br />
Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
?????? ?????????? ?????? ???????????? ??????????? ????? ????? ???????? ???? ???????? ?????? ????? ?????????? ????? ??????? ???????. (??????: 29)<br />
“Diantara (ayat-ayat) tanda-tandaNya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan jika Dia berkehendak untuk mengumpulkannya, maka dia Maha Kuasa.” (asy-Syuuraa: 29)</p>
<p>Jika Allah ?????? ?????? menghendaki untuk menjadikan sesuatu, Ia berkata: ????, yang bermakna “jadilah”, maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:<br />
???????? ???????? ????? ??????? ??????? ???? ??????? ???? ???? ?????????. (??: 82)<br />
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: &#8220;Jadilah!&#8221; maka terjadilah ia. “(Yaasiin: 82)</p>
<p><strong>Iradah Syar’iyah</strong><br />
Iradah Syar’iyah adalah kehendak Allah dalam menentukan hukum-hukum syariat. Alah memiliki hak mutlak dalam menentukan syariat sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Hanya Allah-lah yang menentukan yang halal dan yang haram. Mana yang wajib dan yang tidak wajib dan seterusnya. Tidak ada satu mahluk pun yang berhak untuk memprotes hukum-hukum Allah yang telah dikehendaki-Nya. Oleh karena itu seluruh apa yang telah Allah perintahkan dalam syariat-Nya adalah merupakan kehendak Allah dalam iradlah syar’iyah yaitu yang diridlai dan dicintai-Nya seperti keimanan, ibadah, amal shalih dan lain-lain.</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
&#8230;????????? ?????? ????????? ???????????? ?????? ??? ??????? ?????????? ?????? ???????? ????????? ?????????? ?????? ????? ??????? ???????? ??? ???????. (???????: 1)<br />
“Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguh-nya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (al-Maa’idah: 1)</p>
<p>Demikian pula ayat Allah yang menyata- menghendaki untuk para hamba-Nya kemudahan dan tidak menghendaki adanya kesulitan bagi para hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:<br />
&#8230;??????? ??????? ?????? ????????? ????? ??????? ?????? ?????????&#8230; (??????: 185)<br />
“…Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian&#8230; “(al-Baqarah: 185)</p>
<p>Maka barangsiapa yang mentaati Allah, dia akan mendapatkan kemudahan, sedangkan ahlul bid’ah yang menambah ajaran agama ini akan mendapatkan kesulitan.<br />
Iradah Syar’iah ini merupakan kehendak Allah dalam memerintahkan sesuatu atau melarangnya. Dalam hal ini tentu saja, ada di antara para hamba-Nya yang taat kepada perintah-Nya dan ada pula yang bermaksiat kepada-Nya.</p>
<p><strong>Perbedaan antara Iradah syar’iyah dan Iradah Qadariyah</strong><br />
Antara kedua Iradah ini ada berbagai perbedaan:<br />
1. Dalam Iradah qadariyah tidak selalu berkaitan dengan kecintaan dan keridlaan-Nya. Seluruh kejadian yang terjadi di alam ini baik yang diridlai atau yang tidak diridlai-Nya seperti ketaatan dan kemaksiatan, keimanan dan kekafiran adalah merupakan kehendak Allah ?????? ??????.<br />
Karena kadang-kadang Allah juga menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak diridlai-Nya, seperti menciptakan iblis, menghendaki adanya kekafiran dan kemaksiatan. Hal ini Allah kehendaki karena adanya suatu hikmah yang Allah kehendaki pula.</p>
<p>Adapun dalam Iradah Syar’iyah selalu berkaitan dengan masalah kecintaan dan keridlaan-Nya. Apa yang dikehendakinya dalam syari’at adalah apa yang diridlai-Nya. Apa yang Allah perintahkan, seperti ketaatan, rasa syukur, amal shalih dan lainnya adalah merupakan hal yang dicintai dan diridlai-Nya. Sebaliknya apa yang Allah larang seperti kemasiatan dan kekafiran adalah merupakan hal yang dibenci-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:<br />
???? ?????????? ??????? ??????? ??????? ???????? ????? ??????? ??????????? ????????? ?????? ?????????? ???????? ??????&#8230; (?????: 7)<br />
“Jika kalian kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan kalian dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridlai bagimu kesyukuran kalian itu… “(az-Zumar: 7)</p>
<p>2. Apa yang Allah kehendaki dalam iradlah qadariyah, maka hal itu pasti akan terjadi, karena berkaitan dengan takdir yang telah Allah tetapkan sebelum diciptakannya langit dan bumi.<br />
Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
&#8230;?????? ????? ??????? ??? ????????? ?????????? ????? ???????????. (???????: 112)<br />
“…Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’aam: 112)</p>
<p>Adapun apa yang Allah kehendaki dalam Iradah syar’iyah karena merupa-kan perintah, tentu berkaitan dengan ketaatan para hamba-Nya. Sehingga ada di antara mereka yang taat, dan ada pula yang bermaksiat kepada-Nya.<br />
Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
????? ??????????? ???? ??????? ?????? ????????? ???????? ???????&#8230; (??????: 64)<br />
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita&#8217;ati dengan seizin Allah….“(an-Nisaa’: 64)</p>
<p>Maka dengan ayat ini Allah menghendaki agar manusia taat kepada rasul-Nya yang diutus-Nya (Iradah syar’iyah). Namun di antara manusia ada yang mentaati kehendak Allah dan ada pula yang menentangnya (Iradah qadariyah).</p>
<p>Allah ?????? ?????? berfirman:<br />
???????? ????????? ??? ????? ??????? ???????? ???? ?????????? ??????? ????????????? ??????????? ?????????? ???? ????? ??????? ?????????? ???? ??????? ???????? ???????????? ????????? ??? ????????? ??????????? ?????? ????? ????????? ???????????????. (?????: 36)<br />
Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul).” (an-Nahl: 36)</p>
<p><strong>Kesesatan Aliran Qadariyah dan Jabariyah dalam masalah Iradah</strong><br />
Terhadap kedua jenis Iradah syari’yah dan Iradah qadariyah ini, ahlus sunnah mengimani keduanya, hingga mereka berada di atas jalan yang lurus dan selamat dari penyimpangan dan kesesatan.</p>
<p>Hal ini berbeda dengan aliran sesat qadariyah. Kelompok ini mempercayai adanya Iradah syar’iyah, namun mengingkari adanya Iradah qadariyah. Padahal beriman kepada takdir baik atau buruk adalah merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun iman. Mereka beranggapan bahwa Allah tidak mungkin menakdirkan hal-hal yang tidak dicintai-Nya. Aqidah mereka ini sama seperti keyakinan agama Majusi yang berkeyakinan bahwa Tuhan terang hanya menciptakan kebaikan saja. Adapun kejelekan-kejelekan diciptakan oleh Tuhan gelap.<br />
Sebaliknya aliran jabriyah, kelompok ini meyakini adanya Iradah qadariyah, tapi mengingkari adanya Iradah syar’iyah. Sehingga mereka berpendapat bahwa semua yang telah ditakdirkan oleh Allah berarti dicintai dan diridlai-Nya. Dengan keyakinan ini, mereka menganggap bahwa orang kafir dan mukmin sama dalam ketaatannya kepada Allah ?????? ??????, karena keduanya menjalani kehendak Allah. Maka dengan keyakinan sesat ini pula mereka telah menggugurkan syariat sama sekali. Mereka tidak menyalahkan orang kafir dan tidak pula memuji orang mukmin, karena –bagi mereka- keduanya sedang menjalankan kehendak Allah.</p>
<p>Demikianlah kesesatan qadariyah dan jabriyah dalam memahami sifat Iradah dan Masyi’ah bagi Allah. Sedangkan ahlus sunnah berada di tengah-tengah antara kedua kelompok tersebut. Ahlus sunnah mengimani adanya Iradah qadariyah dengan tetap berusaha mengikuti kehendak Allah yang syar’i yaitu Iradah syar’iyah.<br />
Wallahu a’lam</p>
<p>(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 53/Th. II, 30 Muharram 1426 H/11 Maret 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli &#8220;Sifat Iradah dan Masy&#8217;iah Bagi Allah&#8221;. Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Ongkos cetak dll Rp. 150,-/exp. tambah ongkos kirim. Pesanan min 50 exp. bayar 4 edisi di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab &amp; Pimpinan Redaksi: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief, Agus Rudiyanto; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Abu Rahmah/Abu Urwah HP. 081564634143.)</p>
<p>Diambil dari <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=965">http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=965</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.robee.web.id/islam/ahlussunnah-mengimani-sifat-iradah-dan-masyiah-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
